Laman

Saturday, 17 January 2026

Dolar AS Anjlok Babak Belur, Mata Uang Dunia Menguat

Dolar AS Anjlok Babak Belur, Mata Uang Dunia Menguat

Dolar AS Anjlok Babak Belur, Mata Uang Dunia Menguat




Dolar AS. Foto: dok MI.






Sepanjang 2025 mayoritas mata uang utama dunia mencatat penguatan terhadap dolar Amerika Serikat. Pelemahan dolar ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan akibat perang dagang Donald Trump yang memicu ketidakpastian kebijakan perdagangan naik ke level sangat tinggi.







Di saat yang sama, porsi dolar AS yang disimpan dalam cadangan devisa bank sentral global juga turun ke level terendah dalam 20 tahun. Kombinasi faktor tersebut ikut menekan permintaan global terhadap dolar dan mendorong investor melakukan penyeimbangan portofolio ke mata uang lain.


Menguti data dari Visual Capitalist, krona Swedia menjadi mata uang dengan penguatan terbesar terhadap dolar AS pada 2025, dengan kenaikan 20,2%. Penguatan ini menjadi salah satu performa terbaik krona dalam beberapa dekade.


Dolar AS melemah seiring data ekonomi yang lebih lunak dan perubahan ekspektasi akan kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), sementara investor turut beralih ke mata uang seperti krona karena prospek pertumbuhan Swedia dinilai relatif lebih kuat dan fundamental ekonominya lebih solid.


Di posisi kedua ada peso Meksiko yang menguat 15,6% sepanjang 2025. Capaian ini menjadi tahun terbaik peso sejak 1994, bahkan terjadi di tengah tensi dagang dengan Amerika Serikat. Kenaikan peso turut ditopang oleh pertumbuhan ekonomi yang tetap tahan banting serta kondisi makro yang relatif stabil.


Selanjutnya, franc Swiss menguat 14,5%, rand Afrika Selatan naik 13,8%, dan euro menguat 13,5%. Mata uang Eropa lain juga ikut mencatat penguatan besar, seperti krone Denmark yang naik 13,3% dan krone Norwegia 12,9%.


Dari negara berkembang atau emerging market, real Brasil berhasil menguat 12,8% dari greenback yang sekaligus menunjukkan penguatan terhadap dolar tidak hanya terjadi di negara maju, tetapi juga merambah negara berkembang.


Di kawasan Asia, nilai tukar dolar Singapura terhadap dolar AS turut mencatatkan penguatan hingga 6,2%. Mata uang ini kerap dipandang sebagai tempat berlindung (safe haven aset) di Asia karena kekuatan institusi serta surplus transaksi berjalan Singapura yang besar, sehingga tetap menarik saat pasar global diliputi ketidakpastian.


Penguatan mata uang-mata uang tersebut memperlihatkan bahwa sepanjang 2025, investor tidak hanya merespon arah kebijakan Amerika Serikat, tetapi juga memilih mata uang dengan fundamental yang dinilai lebih kuat di tengah perubahan lanskap perdagangan global.



Rupiah Anjlok 0,58 Persen, Nyaris Sentuh Rp16.900 per Dolar AS




Sementara berbeda dengan mata uang rupiah. Rupiah kembali menunjukkan pelemahan terhadap dolar AS pada perdagangan sepekan. Mata uang garuda menutup pekan ini nyaris menyentuh level Rp16.900 per dolar AS.


Bloomberg meliris, rupiah di pasar spot urun 0,18 persen secara harian ke posisi Rp16.896 per dolar AS pada perdagangan akhir pekan. Dalam kurun waktu sepekan, mata uang Garuda telah melemah sebesar 0,58 persen dibandingkan posisi hari Kamis, 08/01/2026, yang masih berada di level Rp16.798 per dolar AS.


Kondisi serupa tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), di mana rupiah terkoreksi 0,05 persen secara harian ke Rp16.880 per dolar AS, atau melemah 0,47 persen dalam sepekan terakhir.


Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi menyebut, pelemahan ini dipicu oleh meredanya ketegangan antara AS dan Iran. Pernyataan Donald Trump terkait jaminan keamanan bagi demonstran di Iran telah meredakan kekhawatiran pasar akan adanya respons militer segera dari Washington.


Selain itu, Ibrahim menyoroti sinyal positif dari hubungan AS dan Venezuela yang turut mempengaruhi dinamika pasar valuta asing.


“AS mengisyaratkan pembicaraan positif dengan Venezuela, setelah Presiden AS mengatakan dia berbicara pada hari Kamis sebelumnya dengan pemimpin sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, dan menggambarkan panggilan tersebut sebagai sangat positif,” kata Ibrahim dalam risetnya.


Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti kondisi kelas menengah Indonesia yang menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi namun kini tengah tertekan. Kelompok ini mulai bergeser menjadi kelompok rentan, sehingga memerlukan stimulus tambahan guna menjaga daya beli di tengah gejolak ekonomi global.


Berdasarkan analisis teknikal dan fundamental tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah masih akan bergerak fluktuatif dan berisiko ditutup melemah pada rentang Rp16.840 hingga Rp17.000 per dolar AS pada perdagangan selanjutnya.


Tekanan terhadap rupiah juga diperparah oleh aksi jual aset domestik oleh investor asing. Bank Indonesia mencatat terjadi aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan Indonesia sebesar Rp7,71 triliun sepanjang periode 12–14 Januari 2026.


Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso merinci bahwa pelepasan aset tersebut didominasi oleh pasar Surat Berharga Negara (SBN).


"Selama tahun 2026, berdasarkan data setelmen sampai dengan 14 Januari 2026, nonresiden tercatat beli neto sebesar Rp5,33 triliun di SRBI dan Rp6,16 triliun di pasar saham, serta jual neto sebesar Rp9,91 triliun di pasar SBN," ucap Ramdan dalam keterangannya.


Secara lebih spesifik, aliran modal keluar pada pekan ini terdiri dari jual neto sebesar Rp8,15 triliun di pasar SBN dan Rp2,64 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), yang sedikit tertahan oleh beli neto asing di pasar saham senilai Rp3,08 triliun.




























No comments:

Post a Comment