Donald Trump telah berhasil membuka mata dunia "AS bukanlah Negara Super Power" yang hampir setengah abad lebih dunia ditipu dengan propaganda itu.
Era keemasaan baru di Timur Tengah setelah mengumumkan gencatan senjata dengan Iran. Perang, setidaknya untuk saat ini, telah dihentikan sementara. Dan meskipun prediksi selalu berisiko dengan Putih ini, setidaknya ada kemungkinan bahwa pertempuran tidak akan segera berlanjut.
Perang yang berkepanjangan akan meningkatkan risiko bagi semua orang, tetapi terutama bagi Washington. Terleppas dari semua retorika bualan yang keluar dari mulut trump, adalah bentuk sikap Amerika selalu merasa sangat tidak nyaman jika tidak lagi ditakuti negara - negara di dunia.
Syarat-syarat gencatan senjata yang tepat masih belum jelas dan mungkin belum sepenuhnya disepakati. Namun, fakta politik utamanya sudah terlihat: menghadapi perlawanan yang gigih dari Iran, AS mundur.
Tidak satu pun dari tuntutan besar yang ditetapkan di awal operasi terpenuhi. Tuntutan sebagai upaya gertakan dari Trump yang ditulis dengan huruf kapital agar Iran "MENYERAH TANPA SYARAT!" kini lebih terlihat seperti sandiwara politik daripada doktrin strategis.
Namun di balik drama media sosial, sesuatu yang lebih rasional berlaku di Washington: ketika tekanan gagal, lebih baik mundur daripada meningkatkan situasi yang mungkin tidak lagi dapat dikendalikan.
Retorika yang berapi-api sebelum gencatan senjata memiliki tujuan. Hal itu memungkinkan Washington untuk mengklaim bahwa Teheran telah menyerah, sambil menciptakan rasa takut akan bencana yang mengancam sehingga jeda dalam pertempuran dapat dijual sebagai kelegaan. Gedung Putih sekarang akan mencoba untuk menampilkan pengekangan sebagai kemenangan.
Konflik ini tidak diragukan lagi merupakan tonggak penting dalam transformasi sistem internasional yang lebih luas. Tetapi ini bukanlah akhir dari proses tersebut. Ini juga bukan babak terakhir dalam perjuangan untuk Timur Tengah.
Setelah satu dekade Amerika dalam menjajah bangsa lain, hanya bermodalkan retorika yang dibuat sutradar Hollywoo yang seolah merka sangat superior dalam pertempuran juga memperdaya bangsa lain agar mau jadi prajuritnya, dengan dibentuknya ISIS saat menaklulan Suriah.
Dan Dunia harusnya sadar betul dari kenyataan sebenarnya ketika AS menyerang Vietnam, Suriah, Afghanistan dan Iran. AS hanyalah macam ompong. Berjaya berkat hasil tipuam ilusi video yang mereka ciptakan.
Dan dampak terbesar dari peritiwa perang di Timur Tengah bagi Amerika Serikat, penjualan Pesawat Tempur yang sudah hampir setengah abad jadi sumber devisa terbesar dengan segala propaganda sebagai pesawat nomor wahid di dunia, ternyata hanyalah pesawat mainan yang mudah dirontokkan Iran dengan keterbatasan kemampuan teknologinya, akan menjadi masa akhir, karena kemungkinan negara lain tidak lagi terpukau bahkan berminat untuk membelinya.
Donald Trump berhasil membuka mata Dunia tentang kekuatan angkatan bersenjata yang sebenarnya.
Negara - negara Arab yang begitu mendekap AS untuk melindungi negaranya, apakah masih tetap menjadikan AS satpam mereka?
Jika, berarti mereka adalah sultan bodoh yang sudah terlalu dimabuk kekayaaan.
Dan Bagi Indonesia yang sebagian besar warganya sangat mengidolakan AS sebagai barometer keberhasilan, akankah terus mengidolakannya? akankah Prabowo akan tetap merasa bangga bisa bekerjasama dan dipuja puji Donald Trump?.

No comments:
Post a Comment