Friday, 23 January 2026

Dino Patti Djalal Minta Pemerintah Jelaskan Detil Hak dan Kewajiban RI Gabung Board of Peace

Dino Patti Djalal Minta Pemerintah Jelaskan Detil Hak dan Kewajiban RI Gabung Board of Peace

Dino Patti Djalal Minta Pemerintah Jelaskan Detil Hak dan Kewajiban RI Gabung Board of Peace




Menteri Luar Negeri RI Sugiono berbincang dengan Eks Wamenlu Dino Patti Djalal di Kantor Kemenlu RI, Pejambon, Jakarta Pusat, hari Rabu, 16/07/2025)(Dok sosial media X @Menlu_RI)






Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, resmi bergabung dengan Dewan Perdamaian (Board of Peace) gagasan Donald Trump untuk mengelola transisi pasca-konflik di Gaza.







Pemerintah menyebut langkah ini sebagai manuver strategis untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina dari dalam forum pengambilan keputusan global.


Namun, keputusan ini memicu perdebatan sengit, dengan kritik menyoroti biaya keanggotaan $1 miliar, dominasi Trump, dan risiko terabaikannya kedaulatan Palestina


Tak urung juga dengan Dino Patti Djalal. Beliau meminta pemerintah memberikan penjelasan secara perinci mengenai keanggotaan Indonesia dalam Dewan Perdamaian (Board of Peace).


Penjelasan itu termasuk hak dan kewajiban Indonesia setelah memutuskan bergabung Board of Peace yang ditandai dengan penandatangan piagam di hadapan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Swiss, Davos.


"Sebagai negosiator Indonesia untuk Dewan Perdamaian, Menlu (Menteri Luar Negeri) Sugiono perlu berikan penjelasan lebih mendalam, apa hak dan kewajiban Indonesia sebagai anggota Dewan Perdamaian," kata Dino dalam keterangannya melalui X, pada hari Jumat, 23/01/2026.


Dino menyebut, Menlu perlu memperjelas apakah Dewan Perdamaian menjamin prinsip kesetaraan.


Selain itu, Menlu juga perlu memperjelas bahwa proses ini tidak akan menjadi proyek real estate Trump maupun dunia internasional di Gaza yang justru akan mengenyampingkan hak rakyat Palestina.


Pemerintah perlu mengetahui cara mencegah agar Dewan Perdamaian bersih dari kepentingan bisnis aktor-aktor luar yang sebenarnya tidak peduli dengan Palestina.


Kemudian, memperjelas Dewan Perdamaian akan menjamin perwujudan solusi 2 negara (two state solution) kemerdekaan Palestina.


Pasalnya, Trump maupun PM Israel Benjamin Netanyahu masih menjauhi tujuan ini.


"Bagaimana kalau ada perbedaan pendapat di antara anggota dewan, apa mekanisme penyelesaiannya, dan bagaimana agar anggota dewan tidak diposisikan sebagai anak buah Trump yang dikenal sering berpikiran tidak lazim," jelas Dino.


Dino juga meminta pemerintah memperjelas perwakilan Palestina di dalam Dewan Perdamaian.


"Kalau ada PM Israel Netanyahu dalam Dewan Perdamaian, bagaimana dengan perwakilan Palestina?" tanya dia.


Lalu, pemerintah perlu menjelaskan mekanisme yang berlaku dalam prosesnya, misalnya mekanisme ketika gencatan senjata lagi-lagi dilanggar oleh Israel.


Dino pun mempertanyakan biaya fantastis yang perlu dikeluarkan sebuah negara untuk menjadi anggota permanen.


Tak tanggung-tanggung, total yang ditetapkan mencapai 1 miliar dollar AS.


"Kenapa perlu ada fee fantastis 1 miliar dollar AS untuk jadi anggota permanen Dewan Perdamaian, sehingga terkesan sangat transaksional dan elitis, dan apakah Indonesia akan membayar? Menurut saya, jangan," pinta Dino.



Dino Patti Djalal minta RI kurangi ketergantungan ke AS, ini alasannya



Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal mengatakan di tengah eskalasi konflik global, tekanan tarif, serta meningkatnya praktik intervensi, Indonesia dinilai perlu mempertegas prinsip politik luar negeri bebas aktif dengan satu kunci utama, mengurangi ketergantungan berlebihan pada negara besar mana pun.


Menguatnya arah politik luar negeri Amerika Serikat (AS) yang semakin transaksional dan koersif menempatkan Indonesia pada posisi strategis, namun sekaligus rentan.


Dino Patti Djalal Minta RI Kurangi Ketergantungan ke AS, Ini Alasannya © Bisnis.com



Dino menegaskan bahwa Indonesia harus selalu siap menjaga dan membela kepentingannya di panggung global, termasuk saat menghadapi tekanan dari Amerika Serikat.


“Dalam sejarah diplomasi kita, kemampuan untuk mengatakan tidak dan melakukan push back itu sangat penting. Jangan pernah sungkan atau takut mengatakan tidak kepada siapa pun,” kata Dino dalam agenda 'Outlook on Geopolitical Trends & Indonesian Foreign Policy 2026', pada hari Senin, 19/01/2026.


Menurut Dino, sikap tersebut bukan hal baru bagi Indonesia. Ia mencontohkan keberanian Indonesia menolak mendukung invasi Amerika Serikat ke Irak, serta konsistensi Indonesia dalam melanjutkan Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) meski berada di bawah tekanan kuat dari Washington.


“Amerika akhirnya bisa menerima posisi kita. Itu menunjukkan bahwa 'saying no' adalah bagian dari politik luar negeri bebas aktif,” ujarnya.


Meskipun demikian, Mantan Wakil Luar Negeri RI tersebut mengingatkan bahwa tantangan global saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu. Politik luar negeri Amerika Serikat dinilai semakin mengabaikan prinsip kesetaraan dan cenderung mengedepankan pemaksaan kehendak dalam relasi yang tidak seimbang.


“Kesetaraan adalah elemen paling penting dalam setiap perjanjian diplomatik kita. Negara sekecil apa pun kita anggap setara, negara sebesar apa pun juga sama,” tegasnya.


Dalam konteks tersebut, Dino menyoroti pentingnya memastikan setiap kesepakatan dagang Indonesia–Amerika Serikat yang tengah dinegosiasikan benar-benar adil dan tidak menempatkan Indonesia pada posisi subordinat.


Sejalan dengan pandangan tersebut, Co-Founder FPCI Prof. Dewi Fortuna Anwar menilai respons Indonesia tidak boleh berhenti pada upaya mengurangi ketergantungan terhadap Amerika Serikat semata. Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah mengelola risiko secara menyeluruh terhadap semua kekuatan besar.


“Indonesia harus mengurangi risiko terhadap semua negara besar. Jangan mengurangi ketergantungan pada Amerika, tapi justru menjadi semakin tergantung pada China,” kata Dewi.


Dewi menekankan bahwa pengalaman masa lalu menjadi pelajaran penting bagi Indonesia. Ketergantungan yang terlalu besar pada satu negara, khususnya di sektor pertahanan, terbukti melemahkan kapasitas nasional.


Kondisi tersebut pernah dirasakan Indonesia ketika terjadi tsunami Aceh, saat keterbatasan pesawat angkut dan helikopter menghambat respons darurat akibat minimnya alternatif sumber alutsista.


Karena itu, diversifikasi menjadi keharusan, tidak hanya di sektor pertahanan, tetapi juga dalam perdagangan dan rantai pasok. Dewi mencatat, Indonesia kini mulai membagi risiko dengan menjalin kerja sama pengadaan alutsista dari berbagai negara, seperti Prancis, Turki, Rusia, India, hingga Pakistan.


“Resilience itu bukan hanya soal mengurangi dampak risiko, tapi juga kemampuan untuk bangkit kembali setelah risiko itu terjadi,” tutupnya.



























Rusia, Ukraina, dan AS akan bertemu 'trilateral pertama' untuk mengakhiri perang

Rusia, Ukraina, dan AS akan bertemu 'trilateral pertama' untuk mengakhiri perang

Rusia, Ukraina, dan AS akan bertemu 'trilateral pertama' untuk mengakhiri perang




Presiden Rusia Vladimir Putin, kiri, menyambut utusan Presiden Donald Trump, Steve Witkoff, tengah, dan Jared Kushner di Istana Senat Kremlin, Moskow, 22 Januari 2026. ©Alexander Kazakov, AP






Pembicaraan trilateral antara Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat diperkirakan akan diadakan di Uni Emirat Arab, kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada hari Kamis.







Para pejabat Ukraina, AS, dan Rusia akan mengadakan pembicaraan keamanan di Uni Emirat Arab pada hari Jumat, kata Kremlin, menyusul pertemuan para negosiator utama AS dengan Presiden Vladimir Putin di Moskow mengenai rencana yang disusun AS untuk mengakhiri perang Ukraina.


Upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir, meskipun Moskow dan Kyiv tetap berselisih mengenai isu kunci wilayah dalam penyelesaian pasca-perang.


Para negosiator AS, yang dipimpin oleh utusan Steve Witkoff, berbicara dengan pemimpin Rusia di Moskow hingga dini hari Jumat, menurut pernyataan Kremlin.


Penasihat diplomatik Kremlin, Yuri Ushakov, mengatakan kepada wartawan bahwa diskusi mereka "bermanfaat dalam segala hal".


Witkoff dan tim AS selanjutnya akan terbang ke Abu Dhabi, tempat pembicaraan diperkirakan akan berlanjut.


Delegasi Rusia, yang dipimpin oleh Jenderal Igor Kostyukov, direktur badan intelijen militer GRU Rusia, juga akan menuju ke sana "dalam beberapa jam mendatang", menurut Ushakov.


"Kami sungguh tertarik untuk menyelesaikan (konflik) melalui cara politik dan diplomatik," katanya, tetapi menambahkan: "Sampai itu terjadi, Rusia akan terus mencapai tujuannya... di medan perang."


Presiden AS mengatakan pada hari Rabu bahwa Putin dan Zelenskyy akan "bodoh" jika mereka gagal untuk bersatu dan mencapai kesepakatan.


Berbicara di Forum Ekonomi Dunia di Davos pada hari Kamis, Witkoff mengatakan satu masalah utama masih perlu diselesaikan dalam negosiasi, tanpa menyebutkan apa itu.


Zelenskyy mengatakan status masa depan wilayah yang saat ini diduduki Rusia di timur negara itu belum terselesaikan, tetapi proposal perdamaian "hampir siap". Kedua belah pihak sebelumnya telah menyoroti masalah wilayah sebagai hal yang krusial. Secara khusus, Putin telah menuntut agar Ukraina menyerahkan 20% wilayah timur Donetsk yang masih dikuasainya. Zelenskyy menolak untuk menyerahkan wilayah yang telah berhasil dipertahankan Ukraina sejak 2022 melalui peperangan gesekan yang melelahkan dan mahal.


"Saya pikir ini akan menjadi pertemuan trilateral pertama di Uni Emirat Arab. Akan berlangsung besok dan lusa," kata Zelenskyy saat berbicara di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss.


Rusia juga menuntut agar Ukraina meninggalkan ambisinya untuk bergabung dengan NATO, dan menolak kehadiran pasukan NATO di wilayah Ukraina setelah kesepakatan damai.


“Rusia harus siap berkompromi karena, Anda tahu, semua orang harus siap, bukan hanya Ukraina, dan ini penting bagi kami,” kata Zelenskyy dari Davos, menambahkan bahwa jaminan keamanan pascaperang antara Washington dan Kyiv sudah siap, jika kesepakatan tercapai, meskipun hal itu akan membutuhkan ratifikasi dari masing-masing negara.


Zelenskyy berbicara setelah pertemuan tertutup dengan presiden AS di Davos. Presiden Ukraina menyampaikan pidato yang sangat keras di Davos, menuduh para pemimpin Eropa berada dalam “mode Greenland” karena mereka menunggu kepemimpinan dari Trump mengenai Ukraina dan krisis geopolitik lainnya daripada mengambil tindakan sendiri.


Meskipun dukungan Trump untuk Ukraina terbatas dan tidak terarah sejak menjabat satu tahun lalu, Zelenskyy justru fokus pada peran Eropa dalam konflik tersebut, menuduh para pemimpin benua itu bersikap acuh tak acuh dan tidak bertindak.


“Baru tahun lalu, di sini di Davos, saya mengakhiri pidato saya dengan kata-kata ‘Eropa perlu tahu bagaimana membela diri’,” kata Zelenskyy. “Satu tahun telah berlalu, dan tidak ada yang berubah.” Berbicara kepada wartawan saat terbang kembali ke Washington, Trump mengatakan pertemuannya dengan Zelenskyy berjalan dengan baik, menambahkan bahwa presiden Ukraina itu mengatakan kepadanya bahwa dia ingin membuat kesepakatan untuk mengakhiri perang.


“Saya mengadakan pertemuan yang baik, tetapi saya telah mengadakan banyak pertemuan baik dengan Presiden Zelenskyy dan tampaknya hal itu tidak terjadi,” katanya.


Trump mencatat bahwa baik Putin maupun Zelenskyy ingin mencapai kesepakatan dan bahwa “semua orang membuat konsesi” untuk mencoba mengakhiri perang.


Ia mengatakan poin-poin yang menjadi kendala dalam pembicaraan tetap sama selama enam atau tujuh bulan terakhir, mencatat bahwa “perbatasan” adalah isu kunci. “Hambatan utama adalah hal-hal yang sama yang telah menghambatnya selama setahun terakhir,” katanya.


Trump juga mengatakan bahwa ia dan Zelenskyy membahas bagaimana warga Ukraina bertahan hidup di musim dingin yang dingin tanpa pemanas. “Ini benar-benar sulit bagi rakyat Ukraina,” kata Trump, mencatat bahwa “luar biasa” bagaimana penduduk mampu bertahan melewati musim dingin menghadapi serangan Rusia yang tiada henti.


Ukraina sedang mengalami musim dingin yang pahit, dengan serangan Rusia terhadap infrastruktur sipil yang memutus aliran listrik dan pemanas di sebagian besar ibu kota, Kyiv, serta kota-kota besar lainnya.
































DPR AS menolak resolusi yang membatasi kekuasaan Trump untuk menyerang Venezuela

DPR AS menolak resolusi yang membatasi kekuasaan Trump untuk menyerang Venezuela

DPR AS menolak resolusi yang membatasi kekuasaan Trump untuk menyerang Venezuela




Gedung Capitol AS di Washington, DC. ©Al Drago/Bloomberg






Partai Republik di DPR AS memblokir resolusi dalam pemungutan suara yang berakhir seri pada hari Kamis untuk membatasi kekuasaan eksekutif dalam perang di Venezuela, sebuah keputusan yang nyaris gagal bagi Presiden Trump dan konferensi Partai Republik yang sebagian besar telah menghindari kritik terhadapnya.







Resolusi tersebut gagal dengan suara 215 berbanding 215, kurang dari mayoritas sederhana yang dibutuhkan untuk pengesahan. Resolusi tersebut mengarahkan AS untuk menarik semua kehadiran militer dari Venezuela, yang mengharuskan presiden untuk meminta persetujuan Kongres untuk memerintahkan tindakan tersebut.


Brian Mast, ketua Komite Urusan Luar Negeri DPR, mengatakan militer AS telah menyelesaikan misinya di Venezuela dengan "Operasi Absolute Resolve," invasi AS pada 3 Januari dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya.


"'Operasi Absolute Resolve' adalah tindakan penegakan hukum untuk membawa Nicolás Maduro, seorang teroris narkoba yang didakwa dengan hadiah $50 juta, ke pengadilan," kata Mast, R-Fla., di ruang sidang DPR, menggemakan ungkapan yang sudah biasa di Partai Republik. "Dan Presiden Trump menyelesaikan pekerjaan itu."


Pada akhirnya, resolusi kekuasaan perang yang dipimpin oleh Anggota DPR Jim McGovern, D-Mass., mendapat dukungan dari semua Demokrat dan dua Republikan, Anggota DPR Thomas Massie, R-Ky., dan Don Bacon, R-Neb. Para pendukung berpendapat Kongres harus memiliki suara sebelum AS mengirim pasukan militer tambahan ke Venezuela.


"Saya kira kesimpulan terbaik yang bisa kita dapatkan dari mayoritas saat ini adalah bahwa tidak pernah ada waktu yang tepat bagi Kongres untuk menggunakan kekuasaan perangnya. Entah terlalu cepat atau terlalu lambat," kata McGovern. "Yah, saya rasa belum terlalu lambat karena kita masih berurusan dengan konsekuensi dari serangan militer yang tidak sah dan melanggar hukum ini."


Peningkatan aksi militer Trump yang menargetkan Venezuela telah menimbulkan keresahan luas dari kedua partai di Kongres, dengan beberapa anggota Partai Republik mengungkapkan kekhawatiran mereka secara tertutup. Banyak yang mengeluh bahwa mereka terkejut, pemerintah belum memberikan cukup informasi tentang misi tersebut, dan rencana ke depan masih belum jelas.


Namun, Massie bukanlah salah satu dari mereka.


"Kesetiaan kita haruslah kepada Konstitusi dan bukan kepada partai mana pun," demikian argumen Massie di ruang sidang DPR menjelang pemungutan suara. "Jika negara kita menginginkan perang, maka Kongres harus memberikan suara untuk itu. Kita adalah suara rakyat."























Thursday, 22 January 2026

Indonesia, Arab Saudi, Qatar, Yordania, Mesir, UEA, Turki, Pakistan, dan Kuwait bergabung dengan 'Dewan Perdamaian' Trump

Indonesia, Arab Saudi, Qatar, Yordania, Mesir, UEA, Turki, Pakistan, dan Kuwait bergabung dengan 'Dewan Perdamaian' Trump

Indonesia, Arab Saudi, Qatar, Yordania, Mesir, UEA, Turki, Pakistan, dan Kuwait bergabung dengan 'Dewan Perdamaian' Trump




Menteri Negara Luar Negeri Qatar Sultan bin Saad bin Sultan Al Muraikhi, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Pakistan Mohammad Ishaq Dar, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al-Saud, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi, Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono, dan Menteri Negara Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab Khalifa bin Shaheen Al Marar saat pertemuan para menteri luar negeri dari negara-negara Muslim untuk membahas rencana perdamaian Gaza, di Istanbul pada 3 November 2025. Foto oleh AFP






Indonesia, Arab Saudi, Qatar, Yordania, UEA, Turki, dan Pakistan telah menerima undangan untuk bergabung dengan "Dewan Perdamaian" Presiden AS Donald Trump, kata kementerian luar negeri Arab Saudi dalam pernyataan bersama yang juga mencakup Uni Emirat Arab.







Pernyataan itu menambahkan bahwa setiap negara akan menandatangani dokumen aksesi.


Kuwait juga telah menerima undangan untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian, kata kementerian luar negerinya.


Trump telah mengundang puluhan pemimpin dunia untuk bergabung dengan inisiatifnya yang bertujuan untuk menyelesaikan konflik global, meskipun para diplomat mengatakan langkah tersebut dapat merugikan kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa.


Namun Arab Saudi mengatakan bahwa kelompok negara-negara mayoritas Muslim - Arab Saudi, Turki, Mesir, Yordania, Indonesia, Pakistan, dan Qatar - mendukung tujuan untuk mengkonsolidasikan gencatan senjata permanen di Gaza, mendukung rekonstruksi, dan memajukan apa yang mereka sebut sebagai "perdamaian yang adil dan abadi".


Di Forum Ekonomi Dunia di Swiss, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa Putin telah menerima undangannya untuk bergabung. "Dia diundang, dia telah menerima. Banyak orang telah menerima," kata Trump.


Putin merespons dengan cepat, mengatakan undangan tersebut sedang dipertimbangkan, lapor Reuters. Dia mengatakan Rusia siap menyediakan $1 miliar dari aset Rusia yang dibekukan dan bahwa dia memandang dewan tersebut terutama relevan dengan Timur Tengah.


Tidak jelas berapa banyak negara yang telah diundang untuk bergabung dengan badan baru Trump - Kanada dan Inggris termasuk di antaranya, tetapi belum memberikan tanggapan publik. UEA, Bahrain, Albania, Armenia, Azerbaijan, Belarus, Hungaria, Kazakhstan, Maroko, dan Vietnam telah mendaftar.


Pada hari Rabu, Vatikan juga mengkonfirmasi bahwa Paus Leo telah menerima undangan. Berbicara kepada wartawan pada hari Rabu, Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, mengatakan


Namun Perdana Menteri Slovenia Robert Golob mengatakan bahwa ia menolak undangan tersebut karena badan itu "secara berbahaya mengganggu tatanan internasional yang lebih luas".


Sebuah dokumen yang bocor menyatakan bahwa piagam Dewan Perdamaian akan mulai berlaku setelah tiga negara secara resmi setuju untuk terikat olehnya, dengan negara-negara anggota diberikan masa jabatan tiga tahun yang dapat diperpanjang dan kursi tetap tersedia bagi mereka yang menyumbang $1 miliar (£740 juta), demikian disebutkan.


Piagam tersebut menyatakan badan tersebut sebagai organisasi internasional yang diberi mandat untuk melaksanakan fungsi pembangunan perdamaian berdasarkan hukum internasional, dengan Trump menjabat sebagai ketua - dan secara terpisah sebagai perwakilan AS - dan memegang wewenang untuk menunjuk anggota dewan eksekutif dan membuat atau membubarkan badan-badan bawahan.


Jumat lalu, Gedung Putih menunjuk tujuh anggota Dewan Eksekutif pendiri, termasuk Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, utusan Timur Tengah Steve Witkoff, menantu Trump Jared Kushner, dan mantan perdana menteri Inggris Tony Blair.



























Wednesday, 21 January 2026

Militer AS Menyita Kapal Tanker Sagitta di Laut Karibia - Komando Militer AS

Militer AS Menyita Kapal Tanker Sagitta di Laut Karibia - Komando Militer AS

Militer AS Menyita Kapal Tanker Sagitta di Laut Karibia - Komando Militer AS




Cuplikan layar ini yang dirilis pada 20 Januari 2026, dari akun X Komando Selatan AS menunjukkan kapal motor Sagitta di Karibia [AFP]






"Pagi ini, pasukan militer AS, dalam mendukung Departemen Keamanan Dalam Negeri, menangkap Kapal Motor Sagitta tanpa insiden. Penangkapan kapal tanker lain yang beroperasi menentang karantina yang ditetapkan Presiden Trump terhadap kapal-kapal yang dikenai sanksi di Karibia menunjukkan tekad kami untuk memastikan bahwa satu-satunya minyak yang meninggalkan Venezuela adalah minyak yang dikoordinasikan dengan benar dan sah," kata komando tersebut pada X.







Menurut basis data, kapal tanker tersebut mengibarkan bendera Liberia dan termasuk dalam daftar sanksi AS terhadap Rusia.


Militer AS mengatakan telah menyita kapal tanker minyak lain yang terkait dengan Venezuela pada hari Selasa, di Laut Karibia.


Laporan ini menandai penangkapan ketujuh sejak dimulainya kampanye Donald Trump selama sebulan untuk mengendalikan aliran minyak Venezuela.


Komando Selatan militer AS, yang mengawasi hampir selusin kapal perang dan ribuan pasukan di Karibia, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka menangkap Kapal Motor Sagitta "tanpa insiden".


"Penangkapan kapal tanker lain yang beroperasi menentang karantina yang ditetapkan Presiden Trump terhadap kapal-kapal yang dikenai sanksi di Karibia menunjukkan tekad kami untuk memastikan bahwa satu-satunya minyak yang meninggalkan Venezuela adalah minyak yang dikoordinasikan dengan benar dan sah," kata pernyataan itu.


Presiden AS telah memfokuskan kebijakan luar negerinya di Amerika Latin pada Venezuela, awalnya bertujuan untuk menggulingkan presiden Venezuela Nicolás Maduro dari kekuasaan. Setelah gagal menemukan solusi diplomatik, Trump memerintahkan pasukan AS untuk terbang ke negara itu untuk menangkap Maduro dan istrinya dalam serangan mendadak pada malam hari tanggal 3 Januari, membawa mereka ke New York untuk menghadapi tuduhan kriminal dan menahan mereka di sana.


Trump mengatakan AS berencana untuk mengendalikan sumber daya minyak Venezuela tanpa batas waktu karena berupaya membangun kembali industri minyak negara yang bobrok dalam rencana senilai $100 miliar yang menimbulkan banyak pertanyaan, terutama dari para aktivis lingkungan dan raksasa minyak AS.


Kapal-kapal yang dicegat sebelumnya berada di bawah sanksi AS atau merupakan bagian dari "armada bayangan" kapal yang menyamarkan asal-usulnya untuk mengangkut minyak dari produsen utama yang dikenai sanksi – Iran, Rusia, atau Venezuela.

















Gubernur DKI Pramono Perbolehkan WFH dan Belajar dari Rumah Saat Jakarta Hujan Lebat

Gubernur DKI Pramono Perbolehkan WFH dan Belajar dari Rumah Saat Jakarta Hujan Lebat

Gubernur DKI Pramono Perbolehkan WFH dan Belajar dari Rumah Saat Jakarta Hujan Lebat




Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat memberikan keterangan pers di Balai Kota Jakarta, hari Jumat, 19/12/2025.(Kompas.com/Dian Erika)






Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung akan menginstruksikan penerapan WFH (Work From Home) bagi pegawai dan belajar dari rumah bagi pelajar apabila Jakarta diguyur hujan lebat.







Pramono mengatakan, bahwa kebijakan itu telah disiapkan sebagai antisipasi saat DKI Jakarta diterjang curah hujan yang tinggi yang berpotensi mengganggu aktivitas dan mobilitas warga.


“Kalau kemudian ada indikasi seperti itu (hujan lebat, red) dan di hari biasa, saya akan memutuskan untuk dilakukan Work From Home, terutama untuk anak-anak didik kita (para pelajar),” ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Jakarta Pusat, pada hari Rabu, 21/01/2026.


Beliau mencontohkan hujan lebat yang melanda Jakarta pada hari Sabtu, 17/01/2026, dan hari Minggu. 18/01/2026.


Menurut beliau, saat itu kebijakan WFH tidak diperlukan karena bertepatan dengan libur panjang.


Namun demikian, Pramono tetap berharap kondisi cuaca di Jakarta stabil sehingga tidak perlu diberlakukan WFH dan belajar dari rumah.


“Kalau memang akan terulang kembali, dan mudah-mudahan tidak ya, mudah-mudahan tidak, karena kemarin ketika curah hujan di hari Sabtu-Minggu, kebetulan kan lagi libur panjang. Sehingga tidak memerlukan work from home,” ungkap Pramono.


Selain itu, Pramono juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan transportasi umum saat hujan melanda Jakarta. Imbauan tersebut bertujuan mengurangi kemacetan yang kerap terjadi ketika kondisi cuaca ekstrem.


Menurutnya, penggunaan kendaraan pribadi justru memperparah kepadatan lalu lintas saat hujan. Sebaliknya, pemanfaatan transportasi umum dinilai mampu mengurangi beban jalan secara signifikan.


“Kalau dengan naik transportasi umum pasti kemacetan di Jakarta juga turun secara signifikan,” ujar Pramono.


Menurut Pramono, sistem transportasi umum di Jakarta saat ini telah terintegrasi dengan cukup baik.


Berbagai moda, mulai dari LRT, MRT, Transjakarta, hingga Mikrotrans, saling terkoneksi dan dapat dimanfaatkan warga untuk menunjang mobilitas sehari-hari.


Ia pun berharap, terutama warganya yang berada di usia produktif, dapat mulai meninggalkan kebiasaan menggunakan kendaraan pribadi dan beralih ke transportasi umum.


“Sebagai Gubernur Jakarta saya berharap bahwa dengan konektivitas Jakarta yang semakin baik, baik itu LRT, MRT, Transjakarta, Mikrotrans, dan sebagainya, harapan saya apalagi digratiskan, mereka mau dan bersedia naik transportasi umum,” kata dia.

















Setelah serangan Trump, Macron mengatakan: kita tidak akan menyerah pada para penindas

Setelah serangan Trump, Macron mengatakan: kita tidak akan menyerah pada para penindas

Setelah serangan Trump, Macron mengatakan: kita tidak akan menyerah pada para penindas




Presiden Prancis Emmanuel Macron menghadiri pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF) ke-56 di Davos, Swiss, 20 Januari 2026. REUTERS/Denis Balibouse. Beli Hak Lisensi.






Presiden Prancis Emmanuel Macron pada hari Selasa mengatakan Eropa tidak akan menyerah kepada para pengganggu atau diintimidasi, dalam kritik pedas terhadap ancaman Presiden AS Donald Trump untuk mengenakan tarif tinggi jika Eropa tidak mengizinkannya mengambil alih Greenland.







Sementara para pemimpin Eropa lainnya telah mencoba untuk menjaga nada yang terukur untuk mencegah perselisihan trans-Atlantik meningkat, Macron justru melancarkan serangan.


Prancis, dan Eropa, tidak akan "secara pasif menerima hukum yang terkuat," kata Macron di Forum Ekonomi Dunia di Davos, menambahkan bahwa melakukan sebaliknya akan menyebabkan "penundukan" mereka.


Sebaliknya, katanya, Eropa akan terus membela kedaulatan teritorial dan supremasi hukum, terlepas dari apa yang disebutnya sebagai pergeseran menuju dunia tanpa aturan. Itu bisa termasuk Uni Eropa yang menanggapi dengan sanksi perdagangan yang keras.



Tolak Para Penganiaya



"Kami lebih memilih rasa hormat daripada para penganiaya," kata Macron. "Dan kami lebih memilih supremasi hukum daripada kebrutalan."


Macron mengenakan kacamata hitam aviator selama pidatonya, yang menurut Istana Elysee untuk melindungi matanya karena pembuluh darah pecah.


Dia menyampaikan pidato tersebut setelah Trump mengancam tarif besar-besaran terhadap anggur dan sampanye Prancis dan memposting pesan pribadi dari Macron, pelanggaran yang tidak biasa terhadap kebijaksanaan diplomatik.


Trump telah berjanji pada hari Sabtu untuk menerapkan gelombang peningkatan tarif mulai 1 Februari pada beberapa sekutu Eropa, termasuk Prancis, sampai AS diizinkan untuk mengakuisisi Greenland, sebuah langkah yang dikecam oleh negara-negara besar Uni Eropa sebagai pemerasan.


"Akumulasi tarif baru yang tak ada habisnya" oleh Washington "pada dasarnya tidak dapat diterima," kata Macron di Davos, "terlebih lagi ketika tarif tersebut digunakan sebagai alat tawar-menawar terhadap kedaulatan teritorial".



Apa Yang Akan di Lakukan EROPA?



Para pemimpin Uni Eropa memutuskan pada akhir pekan untuk berkumpul di Brussels pada Kamis malam untuk pertemuan puncak darurat tentang Greenland.


Tarif atas barang-barang AS senilai 93 miliar euro, yang disisihkan Uni Eropa ketika Trump menyetujui kesepakatan perdagangan dengan blok tersebut musim panas lalu, dapat diberlakukan pada 6 Februari.


Macron telah mendorong Uni Eropa untuk mempertimbangkan penggunaan pertama Instrumen Anti-Koersi, yang secara informal dikenal sebagai "bazooka perdagangan", yang dapat membatasi akses AS ke tender publik atau membatasi perdagangan jasa seperti platform teknologi. Macron mengatakan pada hari Selasa bahwa "gila" jika Uni Eropa telah melangkah sejauh itu.



Hubungan Yang Memburuk



Hubungan presiden AS dengan Eropa secara keseluruhan telah memburuk karena upayanya untuk merebut kedaulatan atas pulau Arktik dari sesama anggota NATO, Denmark, yang mengguncang industri Eropa dan mengirimkan gelombang kejut ke pasar keuangan.


Trump juga tersinggung dengan keengganan Prancis untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian yang diusulkan, sebuah organisasi internasional baru yang akan dipimpinnya. Paris telah menyuarakan kekhawatiran tentang dampaknya terhadap peran Perserikatan Bangsa-Bangsa.


Ketika ditanya tentang sikap Macron terhadap Dewan Perdamaian, Trump mengatakan pada Senin malam: "Saya akan mengenakan tarif 200% pada anggur dan sampanyenya, dan dia akan bergabung, tetapi dia tidak harus bergabung."



TRUMP Mempublikasi Postingan Pribadi



Beberapa jam kemudian, Trump mempublikasikan di akun Truth Social-nya tangkapan layar percakapan dengan Macron.


Dalam percakapan tersebut, yang menurut sumber yang dekat dengan Macron adalah otentik, Macron mengatakan kepada Trump, "Saya tidak mengerti apa yang Anda lakukan di Greenland," dan menawarkan untuk menjadi tuan rumah pertemuan G7 dengan mengundang Rusia dan negara-negara lain.


Baik Trump maupun sumber Prancis tersebut tidak mengungkapkan tanggal pesan-pesan tersebut.



Tidak Ada Pertemuan TRUMP-MACRON Yang direncakan di DAVOS



Macron mengkonfirmasi bahwa ia tidak berencana untuk memperpanjang masa tinggalnya di Davos hingga Rabu, ketika Trump tiba di kota resor pegunungan Swiss tersebut.


"Saya tidak perlu mengubah jadwal saya," katanya, menambahkan bahwa sudah lama direncanakan bahwa ia akan pergi pada malam hari.


Macron, yang akan meninggalkan jabatannya pada pertengahan 2027, telah menjadi presiden Prancis sejak 2017. Hubungannya dengan Trump mengalami pasang surut sejak masa jabatan pertama Trump, dengan Macron bergantian antara sanjungan dan retorika yang lebih keras.


Para pejabat Prancis telah lama membela upaya Macron untuk terlibat langsung dengan Trump, dengan mengatakan bahwa kedua pria tersebut sering melakukan panggilan telepon dadakan dan bertukar pesan teks di luar saluran diplomatik resmi.


Orang-orang yang dekat dengan Macron mengatakan bahwa ia diincar oleh Trump karena ia membela prinsip-prinsip demokrasi.


"Dengan memimpin perlawanan, Prancis menjadi sasaran," kata Pieyre-Alexandre Langlade, seorang anggota parlemen di kubu Macron.