Situasi Elite Amerika Serikat semakin memanas. Sejumlah politisi senior AS ramai-ramai menyatakan sikap menentang kebijakan Presiden Donald Trump soal perang Iran.
Disitat dari kanal YouTube tv One, gelombang kritik terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump semakin menguat di tengah berlanjutnya operasi militer Washington terhadap Teheran, Iran.
Sejumlah anggota kongres dari Partai Republik maupun Demokrat mempertanyakan keberlanjutan perang tersebut.
Menurut mereka, perang terhadap Republik Islam adalah kesalahan fatal karena telah menelan korban jiwa, membebani anggaran negara, serta memicu lonjakan harga energi.
Anggota kongres dari Partai Demokrat, John Barry Larson, bahkan menilai pemerintah telah mengabaikan peran kongres dalam pengambilan keputusan terkait perang tersebut.
Menurutnya, semakin banyak tentara Amerika yang menjadi korban, sementara harga bahan bakar terus meningkat akibat konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Larson juga menegaskan, kongres sebelumnya telah dua kali memberikan suara untuk mengakhiri keterlibatan militer Amerika di Iran.
Karena itu ia mendorong pengesahan rancangan undang-undang yang akan menghentikan seluruh pendanaan bagi operasi militer yang disebutnya tidak memiliki dasar hukum yang jelas.
Desakan serupa juga datang dari anggota kongres dari Partai Republik, Thomas Massie.
Salah satu pengkritik kebijakan luar negeri Trump itu meminta pemerintah AS segera mengakhiri keterlibatan dalam perang dengan Republik Islam sebelum posisi Amerika Serikat semakin melemah.
Messie juga memperingatkan bahwa Teheran kemungkinan masih menunggu sejumlah kondisi yang dapat menguntungkan mereka.
Mulai dari menipisnya cadangan minyak strategis Amerika, berkurangnya kemampuan pertahanan rudal di kawasan, hingga potensi perubahan peta politik di kongres.
Ia menilai Washington sebaiknya keluar dari konflik sebelum situasi tersebut benar-benar terjadi. Sementara itu, eskalasi konflik di Timur Tengah terus meluas.
Serangan-serangan terbaru yang dikaitkan dengan Teheran telah menjangkau sejumlah negara di kawasan, termasuk Yordania dan Irak.
Kondisi ini juga meningkatkan ancaman terhadap jalur pelayaran strategis dunia seperti Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb.
Perkembangan tersebut memicu kekhawatiran bahwa konflik tidak lagi terbatas pada Teheran dan Washington, melainkan berpotensi berkembang menjadi perang regional yang lebih luas.
Kondisi itu juga meningkatkan risiko terhadap stabilitas pasokan energi global, keamanan jalur perdagangan internasional, serta kepentingan strategis Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Teheran Tak Ingin Cepat Damai
Konflik antara Amerika Serikat dengan Iran belum menunjukan tanda-tanda akan mereda. Serangan rudal Teheran ke pangkalan militer AS di Yordania justru memicu pertempuran babak baru.
Disitat dari kanal YouTube Kompas, di saat banyak pihak mengharapkan perdamaian, Teheran diduga memilih mempertahankan konflik terbatas. Lalu apa yang sebenarnya ingin dicapai Republik Islam tersebut?
Hingga saat ini Amerika Serikat dan Iran sama-sama belum menunjukkan tanda siap menghadapi perang terbuka berskala penuh.
Bagi Washington, konflik yang semakin luas berisiko mengganggu infrastruktur energi di Timur Tengah, menaikkan harga minyak dunia, serta menarik lebih banyak negara ke dalam konflik.
Di sisi lain, Republik Islam juga menghadapi pertahanan udara yang melemah, infrastruktur yang rentan, dan ekonomi yang masih dibebani sanksi.
Karena itu, kedua pihak diperkirakan lebih memilih menahan konflik agar tidak berkembang menjadi perang total.
Bagi Teheran, berakhirnya pertempuran belum tentu membawa keuntungan. Meski konflik berhenti, blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran diperkirakan tetap berlangsung.
Begitu pula dengan sanksi ekonomi. Akibatnya, Teheran tetap akan menghadapi kesulitan menjual minyak dan kembali ke pasar energi dunia.
Sementara itu, negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar berpeluang kembali menjalankan ekspor secara normal.
Kondisi tersebut membuat posisi ekonomi Republik Islam berisiko semakin tertinggal meski perang berakhir.
Teheran berupaya mengubah posisi diplomasinya di Selat Hormuz.
Meski menanggung kerugian militer dan ekonomi, gangguan di Selat Hormuz dan jalur pelayaran Beb Al Mandeb tetap mempengaruhi perdagangan global, biaya asuransi kapal, serta pasar energi dunia.
Ketidakpastian di dua jalur strategis tersebut membuat banyak negara, perusahaan, pelayaran, dan importir energi tetap memperhatikan sikap Teheran.
Selain mempertahankan daya tawar, Republik Islam juga diduga ingin mengubah arah diplomasi di kawasan.
Teheran berulang kali memberi sinyal, bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz seharusnya berjalan berdasarkan aturan yang disepakati bersama, atau berada di bawah pengawasan Iran.
Jika tujuan itu tercapai, pembukaan kembali Selat Hormuz tidak hanya mengembalikan kondisi sebelum perang, tetapi juga mengakui pengaruh Republik Islam di kawasan.
Karena itu, konflik dalam skala besar dinilai membuat tekanan tersebut tetap terjaga.
Teheran juga masih menghadapi berbagai tantangan di dalam negeri.
Negara itu masih bergulat dengan inflasi tinggi, pengangguran, kesulitan ekonomi, dan meningkatnya ketidakpuasan masyarakat.
Dalam kondisi konflik eksternal, pemerintah umumnya lebih mudah memperketat keamanan, mengendalikan tekanan politik, serta membangun dukungan publik atas nama pertahanan negara.
Langkah tersebut memang tidak menyelesaikan masalah ekonomi, namun dapat meredakan tekanan politik dalam jangka pendek.
Meski memberikan keuntungan strategis, pilihan ini tetap berisiko besar bagi Republik Islam.
Negara itu masih menghadapi serangan militer, ketidakpastian ekonomi, dan belum ada jaminan bahwa konflik dapat terus dikendalikan.
Konflik terbatas memang dapat memberikan daya tawar yang lebih besar daripada perdamaian saat ini. Namun sejarah menunjukkan konflik terbatas dapat berkembang menjadi perang yang lebih besar.
Sejumlah perkembangan menunjukkan bahwa konflik mulai melibatkan lebih banyak pihak.
Arab Saudi yang sebelumnya berupaya menghindari keterlibatan langsung dilaporkan telah melancarkan operasi terhadap kelompok Syiah yang bersekutu dengan Iran di Irak serta melakukan aksi militer terhadap kelompok Houthi.
Jika gangguan terhadap perdagangan dan pasokan energi dunia terus berlanjut, negara-negara yang selama ini bersikap netral dapat mulai mendukung peningkatan tekanan terhadap Iran.
Sebagian negara bahkan dapat menilai bahwa tindakan yang lebih tegas lebih baik daripada membiarkan krisis pelayaran dan pasokan energi terus berulang.
Hingga saat ini belum ada kepastian bahwa strategi Teheran akan berhasil atau justru menjadi bumerang bagi Republik Islam.
Banyak hal bergantung pada kemampuan Teheran menjaga eskalasi agar tetap terkendali tanpa memicu respon yang lebih besar dari Washington.
Hingga kini belum ada kepastian apakah Iran akan mempertahankan strategi ini atau memilih jalur diplomasi.
Perkembangan selanjutnya akan menentukan apakah konflik tetap terbatas atau berkembang menjadi krisis yang lebih besar di Timur Tengah.

No comments:
Post a Comment