Tuesday 28 November 2017

Respon Tiga Gunung

Respon Tiga Gunung

Dalam kurun lima tahun tiga gunung, merapi, sinabung, agung telah menunjukkan respon atas perubahan iklim, perubahan lempengan tektonik. Kesemua perubahan itu bukanlah peristiwa alam biasa, akan tetapi perubahan dari kerja manusia dalam memperlakukan alam untuk kepentingan hidupnya.




Lembaga yang menaungi gejala kegempaan hanyalah badan yang mencatat setiap getaran sebagai deteksi berdasarkan pedoman data empiris tingkat getaran yang bisa mengetahui akan terjadi letusan dan erupsi. Lembaga tersebut tidak melakukan penelitian apa yang menyebabkan gunung meletus. Sehingga seolah - olah meletusnya gunung hanyalah kejadian alam biasa yang bisa muncul dalam kurun waktu tertentu.


Letusan gunung yang mengeluarkan magma akibat tekanan besar dari gelembung gas belerang, karbondioksida, dan gas mineral lainnya. Tekanan besar ini akibat perubahan suhu extrim antara dipermukaan bumi yang lebih rendah dengan didalam perut bumi, selain itu terjadinya rembesan air laut kedalam pusat magma yang terjadi dilempengan tektonik dibawah permukaan laut.


Selain itu penaung atmosfir bumi terus mengalami reduksi yang menyebabkan suhu bumi menjadi sangat panas saat dibawah sinar matahari dan menjadi lembab dikala malam hari. Reduksi ini juga dari penguapan dari berbagai hasil produksi yang tidak bersahabat di dalam atmosfir, sehingga penyerapan panas cahaya matahari oleh ozon dalam atmosfir berkurang. Ozon ini oksigen pangkat tiga, yang dihasilkan dari aktivitas ekosistim didalam bumi, berkurangnya hutan sebagai kanopi bumi memberi andil berkurang ozon.


Kita lihat dalam sepuluh terakhir aktivitas penambangan, pembangunan infrastruktur, pembukaan lahan industri, semua dibangun tidak memperhatikan akibat yang ditimbulkan bagi keseimbangan alam. Semua didorong oleh perlombaaan untuk mendapatkan uang, yang itu tidak sepenuhnya juga bagi kesejahteraan mahluk yang ada disekitarnya, terutama mahluk satu ciptaan dengannya, manusianya.




Semua didorong ke sana, pembangunan ekonomi yang serabutan yang membuat Indonesia tidak akan lepas dari jeratan hutang. Dan berbagai program dipaksakan dalam rangka meningkatkan ekonomi, seperti contoh membuat kawasan geopark nasional. Pengetahuan yang minim membuat semua program diarahkan tidak dalam satu kerangka grain desain. Amerika Serikat pernah mengalami ini, akibat keserakan satu daerah menjadi tidak bisa ditinggali karena iklim yang extrim yang dirusak oleh penambangan hasil bumi.


Kita lihat di Indonesia, diangkat jadi orang nomor dua, bukaka melakukan expansi explorasi tambang di sumatera. Dan penjualan pasir ke singapura, pembuatan reklamasi, lihat di bali, mereka mau merusak keasriaannya dengan membuat reklamasi jalan. Sementara sebagian rakyatnya miskin, bahkan jadi lahan pihak asing memberikan keterampilan sebagai bentuk pemberdayaan. Teristimewa. DKI, tiap pergantian pemerintah dibangun infrastruktur, bongkar pasang. Proyek yang bagi neraca keuangan adalah pemborosan di arahkan ke alokasi yang tidak tepat guna. Dan setelah mereka jual pasir di sepanjang pesisir laut, sekarang mereka urug ditempat yang permukaannya mereka gali untuk dijual ke singapore, untuk proyek reklamasi yang diambil dari tanah di sekitar jawa barat dan banten. Ini tinggal tunggu saja reaksi alam, yang sekarang sudah sedikitnya mereka rasakan. Makin rajin datang angin puting beliung karena tidak ada lagi penyangga alamnya.


Selamat bersenang - senang.


Semoga saya dan anda orang yang diselamatkan oleh alam

No comments: