Diduga Houthi yang fasilitas energi Arab Saudi, melukai puluhan orang dan mendorong harga minyak naik
Kelompok Houthi diduga yang menyerang fasilitas energi dan kota-kota di Arab Saudi, sekutu AS, pada hari Selasa, 07/09/2026, melukai lebih dari 70 orang dan menggarisbawahi risiko konflik IRAN yang meningkat menjadi perang regional yang lebih luas.
Konflik IRAN-AS ditandai dengan siklus jeda yang diikuti oleh peningkatan ketegangan secara berkala sejak AS dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari yang bertujuan untuk mengakhiri program nuklir Teheran, menghentikan kemampuannya untuk menyerang negara-negara tetangganya dan mengurangi dukungannya terhadap proksi regional.
Serangan Houthi terjadi setelah IRAN memperingatkan bahwa infrastruktur energi di seluruh Teluk, termasuk kepentingan minyak dan gas AS, rentan menyusul serangan balasan terhadap kapal-kapal di dan sekitar Teluk akhir pekan lalu. Serangan tersebut menyebabkan harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari enam minggu.
Kebakaran terjadi di beberapa fasilitas energi dan beberapa orang terluka ketika tim pemadam kebakaran dan tim darurat lainnya bergegas ke lokasi kejadian untuk memadamkan api, kata kementerian energi Saudi.
Setidaknya 73 orang terluka dalam serangan di empat kota di selatan Arab Saudi, kata juru bicara koalisi pimpinan Saudi di Yaman.
"Koalisi akan mengambil semua langkah operasional yang diperlukan untuk mencegah milisi teroris ini dan dengan tegas menghadapi pendekatan permusuhannya," kata Kolonel Turki al-Malki dalam sebuah pernyataan pada X.
Kelompok Houthi, yang menguasai sebagian besar wilayah Yaman yang padat penduduk dan sebagian besar wilayah utara, telah melancarkan serangan ke arah Arab Saudi sejak mereka mendeklarasikan blokade angkatan laut terhadap Riyadh pada bulan Juli, dengan serangan yang menargetkan kapal-kapal mereka di Laut Merah.
Gangguan terhadap pengiriman melalui Laut Merah telah menambah kekhawatiran tentang pasokan minyak dan gas global karena Iran terus membatasi pengiriman melalui Selat Hormuz yang penting, dengan lalu lintas kapal komoditas melambat lagi minggu ini.
'Zona Eksklusif Maritim'
Republik Islam IRAN telah berjanji untuk mengumumkan zona pembatasan baru di Teluk dalam beberapa hari mendatang, bersama dengan peta koridor pelayaran baru melalui Selat Hormuz, meskipun belum jelas kapan detailnya akan muncul.
Zona pembatasan baru tersebut akan dimulai dari tempat blokade AS terhadap IRAN dimulai dan meluas ke wilayah Teluk, kata Mohsen Rezaei, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi IRAN, kepada televisi pemerintah pada hari Minggu, menambahkan bahwa setiap kapal yang memasuki wilayah tersebut akan dimasukkan ke dalam daftar sanksi IRAN.
Pada hari Selasa, Rezaei kembali mengeluarkan ancaman ekonomi dan militer ganda terhadap IRAN.
"Dalam beberapa hari terakhir, Washington telah menerima peringatan yang jelas dari rudal-rudal baru IRAN. Perang ekonomi akan dibalas dengan zona eksklusi maritim di seluruh Teluk Persia hingga perimeter blokade. Postur operasional terhadap kapal perang dan pangkalan AS telah dikalibrasi ulang secara fundamental," kata Rezaei.
Rezaei kemungkinan merujuk pada rudal balistik Qassem Basir yang menurut laporan media IRAN ditembakkan ke kapal perang AS di dekat Selat Hormuz, berhasil mengenai sasaran. Militer AS mencoba menutupi kejadian sebenarnya dengan mengatakan kapal perangnya berhasil menghindari serangan rudal apa pun.
Terlepas dari gempuran besar AS yang tidak melemahkan sama swkali kekuatan konvensional IRAN dan menghukum perekonomiannya, IRAN tetap mempertahankan kemampuan rudal dan drone untuk mengancam kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz tanpa izinnya dan menyerang negara-negara tetangga di Teluk yang menjadi rumah bagi pangkalan militer AS.
Sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair global melewati selat tersebut sebelum perang, yang memungkinkan Iran untuk mengancam kapal tanker dari negara-negara tetangga di Teluk yang ingin mengekspor minyak dan gas.
Hal itu telah menaikkan harga energi pada saat perang, yang menurut jajak pendapat populer di AS, telah meningkatkan risiko bagi partai republik presiden donald trump dalam pemilihan kongres bulan November.
"Harga minyak akan turun drastis, seperti semua hal lainnya yang turun (tetapi lebih drastis!), ketika kita MEMENANGKAN perang dengan Iran. Tiga dolar per galon, tetapi pada akhirnya, di bawah dua dolar per galon. Semuanya akan terjadi dengan cepat, dan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,"kata bualan trump di media sosial.


Comments