Suara anak-anak tampak nyaring dan bersahutan saat mereka belajar di ruang kelas. Dengan riang, mereka tidak mengeluh belajar di ruang kelas bilik bambu.
Sudah sejak Desember 2022, para murid di SD Negeri Suradita, Kampung Suradita, Desa Ciengang, Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, itu melaksanakan aktivitas belajar mengajar di sekolah darurat yang dibangun di atas lahan perkebunan.
Di balik tawa dan keceriaan anak-anak di Sekolah Darurat SDN Suradita Sukabumi, terselip pengalaman di kelas yang kerap mereka jalani untuk bisa mengenyam pendidikan.
Hal itu terutama berkaitan dengan kondisi musim atau cuaca yang sedang terjadi, yang berdampak pada kondisi di dalam kelas. Apabila saat musim kemarau, dalam ruang kelas, mereka merasakan panas dan gerah.
Sebaliknya, saat musim hujan, tak jarang para siswa terkena cipratan air yang masuk melalui tembok tanpa penutup dan atap yang sudah bocor.
Hal tersebut dirasakan Uki, siswa kelas 4 Sekolah Darurat SDN Suradita Sukabumi, yang mengaku bahwa ia belajar dengan kondisi sering terkena cipratan air dari area dinding belakang yang terbuka.
Selain itu, Uki juga merasa kepanasan saat musim kemarau apabila ia sedang belajar di dalam kelas.
"Sekolah di sini (sekolah darurat) sudah 4 tahun, biasanya kalau lagi hujan (saat belajar di kelas) ada air yang nyiprat dari arah sana (Uki sambil menunjukkan dinding yang terbuka). Kalau panas, di sini kepanasan," kata Uki saat ditemui Kompas.com di Sekolah Darurat SD Negeri Suradita, pada hari Rabu pagi, 29/07/2026.
Suara Bising
Selain merasa tidak nyaman akibat kondisi cuaca, Uki juga mengaku sering terganggu akibat suara bising dari kelas lain.
Suara bising tersebut disebabkan akibat tembok yang beralaskan papan tripleks dan bilik bambu sehingga pembelajaran dari kelas lain terdengar masuk pada ruangan yang berdampingan.
"(Iya) selalu (kebisingan dari kelas lain)," ujar Uki.
Sambil memakan makan bergizi gratis (MBG) dalam ompreng, Uki berharap agar sekolahnya itu bisa dibangun dengan nyaman dan layak.
"Uki mau temboknya pakai batu bata," terang Uki.
Rasa tak nyaman saat belajar di sekolah darurat dan dalam bilik bambu itu juga dirasakan oleh Syifa, siswi kelas 5.
Menurutnya, konsentrasi dalam belajar terkadang terganggu oleh kebisingan dari kelas lain sebab pembatas kelasnya menggunakan papan tripleks dan anyaman bambu.
"(Belajar di sini nyaman enggak?) enggak, soalnya kalau sekolah ini ditembok, orang dari (kelas) sebelah ngomong kedengaran. Ini kan ada lubang-lubangnya (juga)," ucap Syifa.
Selain itu, saat terjadi hujan, air sering masuk melalui lubang dinding yang tak tertutup dan cuaca panas sering menusuk ke dalam kelas saat musim kemarau.
"Kalau hujan biasanya ada air yang masuk. Kalau lagi panas, panas. Harapannya, pokoknya pengen semua (kelas dan sekolah) jadi bagus, biar nyaman," tutur Syifa.
Keterangan Kepala Sekolah Kepala
Sekolah Darurat SD Negeri Suradita, Yanti, mengaku bahwa ia menjabat sebagai kepala sekolah sudah 2,5 tahun lamanya.
Saat ia menjabat, area sekolah darurat masih berlantaikan tanah dan belum disemen seperti sekarang.
"Saya di sini (sebagai kepala sekolah) baru dua tahun setengah, waktu ibu ke sini ya, dindingnya juga masih dinding bambu biasa, terus lantainya juga masih lantai tanah," kata Ibu Yanti.
Ibu Yanti melanjutkan, seiring dengan berjalannya waktu, sekelompok mahasiswa kemudian membantu mengadvokasi potret keadaan Sekolah Darurat SD Negeri Suradita.
Setelah itu, Sekolah Darurat SD Negeri Suradita tersebut sempat mendapatkan renovasi bangunan menggunakan jenis bambu yang lebih kuat dari sebelumnya.
Meski demikian, kondisinya kini mulai dimakan usia.
"Harapan dari saya khususnya, mungkin dari guru-guru juga, dari anak-anak juga ya, kami itu maunya bangunan yang layak saja untuk siswa, bangunan baru. Karena walaupun siswanya sedikit, tapi kan anak-anak berhak mendapatkan bangunan yang layak," ujar Ibu Yanti.
"Terus sarana prasarana juga, kami ingin meningkatkan kompetensi anak-anak juga kan susah kalau tidak ada sarana prasarananya. Anak-anak juga mau main sepak bola juga karena tidak ada lahannya, terus ini juga kan pemagaran juga tidak ada. Mau bagaimana, mau jadi sekolah ramah anak bagaimana (sambil bercerita sekolah dekat dengan area jurang sedalam empat meter)," tutur Ibu Yanti.



No comments:
Post a Comment