AS akan memberi sanksi berat dalam terhadap IRAN - Yang kalah perang sedang ngigau
AS yang faktanya kalah perang melawan IRAN, namun tidak mau mengakuinya secara terbuka, kembali mengeluarkan pernyataan seperti orang yang kalah perang sedang ngigau. Seperti menteri keuangan AS scott bessent mengatakan Amerika Serikat akan memberlakukan "sanksi terberat dalam sejarah" terhadap Iran. Dunia yang paham situasi politik intrrnasionak sejak 1960an - 80an, tentu akan menertawakan pernyataan tersebut.
Igauan bessent itu disampaika pada hari Kamis menyusul igauan atau komentar kesurupuan presiden donald trump sehari sebelumnya tentang "Perang Ekonomi" dan peringatan akan konsekuensi ekonomi terhadap negara mana pun yang memberikan "segala jenis bantuan kepada IRAN."
Semua pernyataa igauan tersebut hanyalah untuk menghidari hujatan masa AS atas harga minyak melonjak tinggi, bahkan ke level tertinggi dalam lebih dari tiga minggu pada hari Kamis setelah ancaman sanksi keuangan AS yang bertujuan untuk memaksa diakhirinya perang yang telah berlangsung hampir enam bulan dan telah menyebabkan jutaan barel minyak Timur Tengah terhenti.
"Saya tidak yakin mengapa harga minyak melonjak karena hal ini," kata Bessent pura - pura bego kepada CNBC. "Jika kita melakukan tekanan ekonomi maksimum, maka itu berarti kemungkinan besar tidak akan ada pengaktifan kembali kekuatan militer skala besar,"bualanannya, menggunakan istilah yang merujuk pada kekuatan militer.
Ribuan orang telah tewas dalam atas kejahatan Perang yang dilakukan AS dan Israel kepada IRAN, Palestina dan Libanon. Kemampuan luar biasa IRAN dalam melakukan perlawanan senjata sekalipun karena itu akhirnya, yang melibatkan negara-negara Teluk, IRAN mampu menunjukkan kekuatannya terhadap AS, Israel dan negara - negara teluk yang menjadi boneka AS, sepeti Arab Saudi, UEA, Bahrain, Yordania, Qatar.
Yang lebih mengejutkan pasar karena Iran menunjukkan kemampuannya untuk membatasi lalu lintas pengiriman Energi melalui Selat Hormuz. Lalu lintas jalur air yang membawa sekitar seperlima dari seluruh minyak yang diperdagangkan sebelum Februari.
AS dan Iran telah dua kali mengumumkan kesepakatan gencatan senjata, pada bulan April dan Juni, yang bertujuan untuk memulihkan arus pengiriman bebas melalui Hormuz dalam upaya mengakhiri konflik, tetapi keduanya dengan cepat gagal. Karena tujuan utama gencatan AS adalah sebagai kamuflase untuk mengumpulkan senjata, setelah terkuras saat melawan IRAN.
Iran telah memiliki pengalaman menghadapi sanksi ekonomi yang hampir terus-menerus dan berat selama hampir 50 tahun, sejak Revolusi Islam tahun 1979. Dampak sanksi seperti tidak ada sama sekali, bahkan mampu membuat pengayaan persenjataannya modern, yang membuat AS, Israel. dan negara - negara teluk boneka AS tidak mampu melawannya.
Sebelum Bessent mengigau, Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan pihaknya mengutuk sanksi ekonomi dan perdagangan AS, menyebutnya sebagai bentuk "terorisme ekonomi" yang tidak akan "menimbulkan keraguan sekecil apa pun dalam tekad rakyat Iran untuk melindungi kemerdekaan, martabat, dan kedaulatan nasional Iran."
'Sanksi Ekonomi" tidak akan berdampak kepada IRAN, jika diberlakuka, karena ada Rusia dan China sebagai perimbangan, selain pengalaman IRAN dalam melumpuhkan sanksi ekonomi.
Pernyataan yang lebih terlihat seperti orang sedang mengigau dari bessent, hanyalah untuk kampanye trump di pemilu presiden AS. Dan kepada dunia seolah masih ingin masih dianggap kekuatan terbesar di blok barat.
Sanksi apapun dari AS pada satu, tidak akan berdampak pada negara tersebut. inilah keadaan sebenarnya, AS kalah perang lawan Vietnam, Afghanistan dan IRAN.

Comments