Pembicaraan Iran-Oman tentang Hormuz 'berhasil' - Bohong Besar AS terlibat dalam perundingan tersebut
Upaya diplomatik untuk membuka kembali Selat Hormuz meningkat, dengan Iran mengatakan pembicaraan dengan Oman berjalan "positif".
Amerika Serikat kembali membuat bualan ikut dalam perundingan tersebut, melalui Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio dengan pede seolah ada dalam perundingan melaporkan "kemajuan" dalam pembicaraan mengenai selat tersebut, bualan juga ditambahkan oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang menyarankan kesepakatan mungkin dapat tercapai paling cepat "hari ini atau besok", seolah dilibatkan di perundingan Iran dengan Oman.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan bahwa pembicaraan Teheran dengan Oman mengenai Selat Hormuz terus berjalan "positif."
"Pembicaraan sejauh ini dinilai positif baik di tingkat teknis maupun politik. Iran berupaya mengembangkan mekanisme yang diperlukan untuk pengaturan di masa mendatang dalam mengelola lalu lintas pelayaran di jalur strategis ini, bekerja sama dengan Oman," kata Baqaei kepada stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, pada hari Selasa.
Hasil pembicaraan "akan diumumkan setelah selesai."
Negosiasi tersebut berfokus pada penetapan jalur pelayaran masuk dan keluar yang aman yang "menjaga hak kedaulatan kedua negara sambil mempertimbangkan pertimbangan keamanan nasional Iran dan Oman," tambah Baqaei.
Di sisi lain, para mediator mengada-ada yang mengklaim berhasil menyiapkan dokumen untuk membuka kembali Selat Hormuz karena klaim mengada - ada mediator Pakistan dan Qatar telah meningkatkan kontak dengan AS dan Iran, selain "mitra regional," kata sumber pemerintah Pakistan kepada Anadolu.
Sumber tersebut membual dengan mengatakan, bahwa kontak tidak langsung antara AS dan Iran melalui mediator Pakistan dan Qatar berada pada "tahap akhir" untuk menyelesaikan dokumen tersebut. Tidak ada kontak pembicaraan langsung maupun tidak langsung Iran dengan Amerika Serikat.
Oman, yang telah melakukan pembicaraan dengan Iran tentang pengelolaan Selat Hormuz di masa depan, juga "secara aktif" terlibat dalam upaya diplomatik terbaru untuk mengakhiri permusuhan dan membuka kembali selat tersebut, kata sumber.
Dokumen satu halaman tersebut, hanya berisi hal-hal yang berkaitan dengan Selat Hormuz, dan tidak ada sama sekali dimulainya kembali pembicaraan antara AS dan Iran.
Iran akan membuka kembali selat tersebut, dan sebagai imbalannya, AS akan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, menurut dokumen tersebut, kata bualan sumber.
Setelah implementasi dokumen tersebut, para mediator pro AS, masih bermimpi bisa menyelesaikan tanggal dan tempat dimulainya kembali pembicaraan langsung dengan berkonsultasi dengan Washington dan Teheran, tambah bualan sumber tersebut.
Sumber tersebut mengatakan bahwa kedua pihak yang bertikai masih berselisih mengenai beberapa isu, terutama tarif tol.
"Pihak AS bersikeras bahwa Selat Hormuz harus sepenuhnya bebas tol untuk pelayaran komersial seperti sebelum dimulainya perang. Sementara Teheran menginginkan 'biaya layanan' untuk menutupi biaya lingkungan dan keamanan," kata bualan mereka.
Negosiasi terus berlanjut, kata Baghaei kepada stasiun televisi pemerintah IRIB TV, seraya mengatakan bahwa Iran berupaya mengembangkan mekanisme dengan Oman untuk mengelola lalu lintas pelayaran di masa depan melalui selat strategis tersebut.
Ia mengatakan bahwa setiap rute baru harus melindungi hak kedaulatan dan keamanan nasional Iran dan Oman, menambahkan bahwa hasil akhir akan diumumkan setelah pembicaraan selesai.
Sementara itu, stasiun televisi pemerintah Press TV pada hari Selasa mengutip seorang pejabat senior Iran yang mengatakan bahwa setelah beroperasi, koridor baru tersebut akan menggantikan rute utara dan selatan yang ada.
Pejabat tersebut menggambarkan tindakan itu sebagai tindakan defensif dan "sepenuhnya sesuai dengan hak setiap negara berdaulat untuk melindungi perairan teritorialnya dari ancaman eksternal."
Iran memperketat cengkeramannya di selat tersebut pada 28 Februari, melarang pelayaran aman bagi kapal-kapal milik atau yang berafiliasi dengan Israel dan Amerika Serikat setelah serangan gabungan mereka di wilayah Iran.
Militer AS melancarkan beberapa gelombang serangan terhadap target Iran bulan lalu, dengan mengatakan bahwa serangan tersebut sebagai tanggapan terhadap serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz dan bertujuan untuk "melemahkan kemampuan Iran untuk mengancam pelayaran komersial."
Iran menanggapi dengan serangan rudal dan drone yang menargetkan pangkalan dan fasilitas militer AS di wilayah tersebut.

Comments