Ide Mantan Menlu IRAN - Teheran Bisa Serbu Pangkalan AS dan Sandera 100 Tentara Amerika

Ide Mantan Menlu IRAN - Teheran Bisa Serbu Pangkalan AS dan Sandera 100 Tentara Amerika

Ide Mantan Menlu IRAN - Teheran Bisa Serbu Pangkalan AS dan Sandera 100 Tentara Amerika




Manouchehr Mottaki berbicara selama Konferensi Kerja Sama Asia Kesembilan... Beli Hak Lisensi






Manouchehr Mottaki, mantan Menteri Luar Negeri IRAN juga anggota parlamen mewakili Teheran, membuat gagasan sebuab wacana, bahwa penyerbuan dan penguasaan satu pangkalan Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah akan menentukan hasil dari perang saat ini. Mottaki menyampaikannya dalam sebuah pidato yang dilaporkan media Iran seperti SNN.







"Jika kita menguasai satu saja pangkalan Amerika, kita akan mengakhiri dan menentukan nasib dari perang melawan angkatan bersenjata penjajah terbesar di dunia," kata Mottaki," yang potongan video pidatonya juga beredar viral di media sosial


Mottaki menjabat sebagai Menteri Luar Negeri pada 2005 hingga 2010 di bahwa kepemimpinan Presiden Mahmoud Ahmadinejad. Saat ini dia menjadi salah satu wakil suara garis keras di parlemen IRAN yang juga kerap menjadi komentator politik di media-media IRAN.


Pada Juni 2026 berbicaa di kanal televisi IRAN, Channel 1, Mottaki berargumen bahwa IRAN mampu untuk melancarkan "perang darat serius", sambil menyebut pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah sebagai target yang sah untuk diserang. Dia juga menawarkan ide penculikan 100 tentara AS untuk dijadikan sandera.


Kemudian pada wawancara di IRINN TV, pada Juli, Mottaki meningkatkan eskalasi pernyataannya dengan mengatakan bahwa IRAN bisa menduduki pangkalan di Irak, Kuwait, dan Bahrain dengan dukungan warga lokal , menangkap sekitar 200 prajurit AS, dan lalu "melucuti total" AS dan menghentikan agresinya.


Mottaki pun menegaskan bahwa Yordania dan enam negara Teluk sebagai negara tak bersahabat, membuat semua kawasan itu sebagai target sah. Wacana yang diajukan Mottaki meresonansi elemen Revolusi 1979 di mana saat itu strategi penyanderaan warga Amerika menjadi daya tawar IRAN.


Pada pekan lalu, penasihat dan utusan dari Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, Mohammad Mokhber pada Kamis, 13/08/2026, mengatakan bahwa, IRAN kemungkinan akan mengubah strategi perang menjadi ofensif ketimbang membalas setiap serangan musuh seperti sebelumnya. Strategi itu akan diterapkan jika syarat-syarat yang ditetapkan Teheran tak dipenuhi AS.


"Strategi definitif Pemimpin Tertinggi adalah perang menjadi ofensif jika syarat-syarat dari Iran tidak dipenuhi," kata Mokhber dalam unggahan di X, dikutip Anadolu.


Mokhber mengeklaim bahwa kegagalan AS dalam melindungi sekutunya di Teluk mendemonstrasikan keterbatasan jaminan keamanan dari Washington. Menurut Mokhber, fondasi paling kuat untuk sebuah tatanan kawasan yang baru adalah implementasi dari mekanisme keamanan Selat Hormuz yang bebas dari pengaruh AS.


Secara terpisah, Ebrahim Azizi, kepala dari Komisi Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional Parlemen Iran, mengingatkan negara-negara di kawasan untuk tidak bergantung kepada apa yang dia gambarkan sebagai "musuh-musuh Islam". Tindakan bergantung kepada musuh Islam, menurutnya, akan menempatkan kedaulatan dalam risiko.


Menurut Azizi, instabilitas kawasan akibat dari ketergantungan pada pengaruh asing akan "memicu sebuah respons tegas dan menentukan yang tak terhindarkan dari Iran."























Comments

Popular posts from this blog

Kapolri Perintahkan Kabareskrim Selidiki Teror Kepala Babi-Bangkai Tikus di Kantor Tempo

Elon Musk sells X

Wudhu Pembuka Shalat