Serangan baru terhadap kapal-kapal dagang kembali terjadi saat perundingan perang Iran- AS hampir menemui jalan buntu
Amerika Serikat dan Houthi dilaporkan telah melakukam serangan terpisah terhadap kapal pada hari Selasa, seiring prospek berakhirnya perang IRAN yang telah berlangsung selama lima bulan yang tampak kian suram, dengan Teheran mengatakan Selat Hormuz akan tetap tertutup kecuali Washington menerima persyaratannya.
Harga minyak naik dan saham global turun di tengah pesimisme baru tentang berakhirnya konflik dengan cepat. Harga minyak mentah Brent naik 1,4% menjadi $88,91 per barel dan minyak mentah AS naik 1,3% menjadi $83,20.
Houthi Yaman, yang pada 20 Juli mengatakan akan memberlakukan blokade angkatan laut terhadap Arab Saudi di Laut Merah, menyerang kapal Saudi yang membawa peralatan militer di Selat Bab el-Mandeb, lapor kantor berita Saba yang dikelola Houthi.
Tidak ada konfirmasi langsung dari Arab Saudi mengenai serangan itu, tetapi Kementerian Transportasi Yaman mengatakan empat awak kapal tewas dalam serangan yang diduga dilakukan Houthi terhadap sebuah kapal kargo kecil di Selat Bab el-Mandeb pada hari Selasa. Korban jiwa di atas kapal Tihamah milik Mesir akan menjadi kematian pertama dalam serangan Houthi terhadap pelayaran sejak perang Iran dimulai.
Sementara itu, militer AS mengatakan sebuah helikopter MH-60 Angkatan Laut AS menembakkan dua rudal Hellfire untuk melumpuhkan kemudi kapal kargo berbendera Panama setelah kapal tersebut mengabaikan peringatan berulang kali untuk berhenti melanggar blokade angkatan laut di pelabuhan IRAN. Sumber maritim mengatakan, bahwa kapal tersebut terkena serangan di lepas pantai Pakistan saat berlayar ke Teluk Oman.
Retorika Yang Meningkat
Baik IRAN maupun Amerika Serikat telah meningkatkan retorika dalam dua hari terakhir.
Pejabat keamanan tertinggi IRAN, Mohsen Rezaei, mengatakan pada hari Selasa bahwa jalur pelayaran vital Selat Hormuz akan tetap ditutup kecuali AS menerima syarat-syarat IRAN untuk mengakhiri perang - pembebasan aset IRAN yang dibekukan dan pengakhiran perang di seluruh wilayah, termasuk di Lebanon dan Gaza.
Hal itu menyusul tuntutan baru dari Presiden AS Donald Trump pada hari Senin bahwa IRAN harus membayar kompensasi atas orang-orang yang tewas dalam 50 tahun perang, serangan, dan protes.
Sepanjang konflik, Trump terus membuat bualan secara bergantian antara ancaman eskalasi dan klaim bahwa kesepakatan damai sudah dekat. Disebut bualan, apa yang diucapkan bertolakbelakang dengan realita di lapangan. Hal lain juga trump melakukan bualan agar tidak dilihat lemah di mata dunia, dan tidak digulinhkan di kongres AS.
Dalam sebuah wawancara yang dirilis pada Senin malam, ia mengisyaratkan bahwa ketidakpastian saat ini dapat berlangsung untuk sementara waktu, dengan mengatakan bahwa ia mungkin hanya akan "terus berjalan."
"Saya sedang bernegosiasi,"bualan Trump kepada Real America's Voice."Mereka adalah negosiator yang sangat licik."
Komentar dari Rezaei, yang diangkat pada hari Minggu sebagai wakil komandan badan yang mengoordinasikan keamanan dan kebijakan luar negeri IRAN, merupakan indikasi terkuat bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali untuk pelayaran dalam waktu dekat. Jalur air ini menangani seperlima aliran minyak dan gas alam cair global sebelum perang.
"Selama Amerika tidak mengubah perilakunya dan tidak menerima syarat-syarat IRAN, Selat Hormuz tidak akan dibuka," kata Rezaei, menurut kantor berita semi-resmi Tasnim.
Tidak ada komentar langsung dari Washington mengenai komentar terbaru Iran. Ribuan orang telah tewas dalam konflik tersebut sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. IRAN menyerang aset dan infrastruktur AS di negara-negara termasuk Oman, Yordania, Kuwait, Israel, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.
Meningkatkan prospek eskalasi lebih lanjut, Mohammad Reza Naqdi, seorang penasihat komandan Garda Revolusi Iran, mengatakan di televisi pemerintah Iran pada hari Selasa bahwa korps tersebut sedang mengembangkan kemampuan untuk melakukan operasi "di wilayah musuh."
"Kita perlu mampu memindahkan operasi ke wilayah musuh, kapan pun ini diperlukan dan diperintahkan," katanya. "Ini adalah ciri khas doktrin ofensif yang harus dicapai."


Comments