Apakah Pakistan, Turki, dan Arab Saudi baru saja meluncurkan 'tatanan regional baru'?

Apakah Pakistan, Turki, dan Arab Saudi baru saja meluncurkan 'tatanan regional baru'?




Pakta Pertahanan Bersama Mekah menyatukan negara-negara yang terletak di antara Iran dan Israel, akan tetapi apakah pakta ini menjadi pencegah yang efektif terhadap ancaman regional?


Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kiri), Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (tengah), dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bertemu di Mekah pada 7 Agustus [AFP]






Arab Saudi, Pakistan, dan Turki menandatangani pakta pertahanan pada hari Jumat, 07/08/2016, memicu pembicaraan tentang pengelompokan ala NATO yang dapat mengubah keseimbangan kekuatan regional.







Pembentukan blok ini terjadi di tengah situasi keamanan yang bergejolak di Timur Tengah, yang dipicu oleh serangan AS-Israel terhadap Iran. Balasan Teheran terhadap monarki Teluk, yang secara tradisional merupakan sekutu AS, telah mengungkap keterbatasan payung keamanan Amerika dan memaksa negara-negara Arab Teluk untuk memikirkan kerangka keamanan alternatif.


Pakta tersebut ditandatangani di Mekah oleh Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, Presiden Turki Tayyip Erdogan, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.


Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu dari ketiga negara tersebut akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya. Namun, belum jelas apakah serangan semacam itu akan memicu respons militer gabungan – seperti komitmen pertahanan kolektif Pasal 5 NATO – dari blok tersebut.



Mengapa pakta ini penting?



Namun demikian, aliansi militer antara tiga negara Muslim Sunni ini menawarkan simbolisme yang kuat di wilayah yang dilanda konflik.


Ketua lembaga think tank yang berbasis di Arab Saudi, Gulf Research Center, Abdulaziz Sager, mengatakan kepada, bahwa:“kerangka kerja trilateral dapat memperkuat bobot diplomatik dan pertahanan kolektif ketiga negara sekaligus berkontribusi pada munculnya arsitektur keamanan yang lebih berorientasi regional.”


Ketiga pemain tersebut membawa aset yang sangat kuat ke dalam kelompok ini: Pakistan adalah satu-satunya negara Muslim yang memiliki persenjataan nuklir; Turki memiliki industri pertahanan yang kuat dan militer terbesar kedua di NATO; dan Arab Saudi – pengekspor minyak mentah terbesar di dunia – memiliki kekuatan finansial, selain militer yang dipenuhi senjata Amerika.


Namun, para ahli mencatat bahwa ini bukanlah upaya pertama untuk membangun penyeimbang serupa di kawasan tersebut, dan pakta terbaru ini mungkin tidak akan langsung menjadi "pengubah permainan."


“Saya tidak akan sampai menyebutnya NATO Islam atau munculnya blok keamanan baru atau aliansi baru atau… penyelarasan,” kata pakar Timur Tengah dan profesor madya di Universitas Jawaharlal Nehru, New Delhi, Muhammad Mudassir Qamar. Ia mencatat bahwa upaya aliansi semacam itu telah dilakukan di masa lalu.



Apa yang menyebabkan kesepakatan Mekah?



Kesepakatan Mekah merupakan hasil negosiasi selama berbulan-bulan dan didasarkan pada kesepakatan serupa antara Riyadh dan Islamabad tahun lalu, serta hubungan militer yang semakin erat antara Islamabad dan Ankara.






Pakta pertahanan Saudi-Pakistan telah menawarkan Riyadh sebuah penangkal yang didukung nuklir ketika Iran, Israel, dan AS membentuk kembali perhitungan keamanan negara-negara Teluk. Beberapa ribu pasukan Pakistan, 16 jet tempur, drone, dan bahkan sistem pertahanan udara buatan China sudah ditempatkan di Arab Saudi bagian timur.


Militer Pakistan sudah menggunakan drone Turki dan sistem senjata lainnya, beberapa di antaranya digunakan dalam bentrokan dengan India tahun lalu.


Konflik Timur Tengah juga telah mengganggu keseimbangan keamanan di kawasan tersebut, dengan Iran dan milisi proksinya menyerang dengan relatif tanpa hukuman meskipun ada serangan AS yang berkelanjutan, yang mengkhawatirkan negara-negara Arab Teluk.


Ankara khawatir tentang dukungan AS terhadap milisi Kurdi melawan Iran, salah satu komponen dari rencana awal AS-Israel untuk menggulingkan pemerintah Iran.


Islamabad memiliki ambisi untuk menjadi pemain regional utama di Asia Tengah dan Timur Tengah, dengan memanfaatkan hubungan persahabatannya dengan negara-negara Muslim di kawasan tersebut.



Bagaimana negara-negara lain merespons?



Iran, yang telah lama berupaya mendominasi kancah keamanan Teluk dan berbatasan dengan Pakistan, menyebutnya sebagai "kesepakatan di atas kertas."


"Arab Saudi harus tahu bahwa kesepakatan di atas kertas dengan Turki dan Pakistan tidak akan memberi mereka keamanan, sama seperti bertahun-tahun dukungan sepihak kepada Amerika tidak memberi mereka keamanan," tulis Ebrahim Rezaei, anggota Parlemen Iran dan Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri, di X.


India, yang memiliki hubungan tegang dengan Pakistan dan marah atas dukungan Ankara terhadap Islamabad, mengatakan pihaknya mengamati perkembangan tersebut dengan cermat. “Ini juga merupakan perkembangan yang kami pantau dengan saksama, dan kami akan terus memberi Anda informasi terbaru,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri India, Randhir Jaiswal, kepada wartawan.


Keselarasan pertahanan yang muncul ini tidak memengaruhi perhitungan pertahanan India atau keselarasan di kawasan tersebut, tetapi tetap patut diperhatikan, menurut Qamar dari Universitas Jawaharlal Nehru.


Namun demikian, ia menyarankan, hal itu berarti perhitungan keamanan regional yang lebih kompleks di tahun-tahun mendatang bagi India, meskipun hubungan New Delhi yang semakin erat dengan Riyadh akan menjadi penyeimbang yang penting.































Comments

Popular posts from this blog

Kapolri Perintahkan Kabareskrim Selidiki Teror Kepala Babi-Bangkai Tikus di Kantor Tempo

Elon Musk sells X

Wudhu Pembuka Shalat