Pejabat Iran mengejek klaim Trump mengendalikan Selat Hormuz

Pejabat Iran mengejek klaim Trump mengendalikan Selat Hormuz

Pejabat Iran mengejek klaim Trump mengendalikan Selat Hormuz










Juru bicara Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen IRAN, Ebrahim Rezaei, pada hari Selasa, mengejek klaim Presiden AS Donald Trump bahwa Amerika Serikat mengendalikan total Selat Hormuz.







Dalam sebuah unggahan di X, Rezaei mempertanyakan mengapa, jika Washington memang mengendalikan selat tersebut, "tidak ada kapal Amerika yang mampu melewati Selat Hormuz sejak 9 Februari 2026."


"Jika Anda berani, mendekatlah ke Selat Hormuz," tulisnya, seraya mengejek trump.


Sebelumnya berrbicara dengan wartawan, seperti biasa dengan omong besarnya yang tidak pernah terbukti, Presiden AS Donald Trump menekankan: "... Kita memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz saat ini... kita memilikinya."


“Saat ini kami memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz. Mereka tidak memiliki kendali. Kami memiliki kendali penuh. Kami pemiliknya,” bual trump.


IRAN menegaskan bantahan atas klaim Presiden Donald Trump bahwa Washington memiliki "kendali penuh" atas Selat Hormuz, dengan mengatakan bahwa jalur air penting tersebut akan tetap tertutup sampai Amerika Serikat menerima tuntutannya dan mengubah "perilakunya".


Menurut kantor berita semi-resmi Tasnim, Mohsen Rezaie, kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang baru diangkat, mengatakan kepada duta besar China untuk Teheran, Cong Peiwu: "Selama Amerika tidak mengubah perilakunya dan tidak menerima syarat-syarat Iran, Selat Hormuz tidak akan dibuka."


Selat Hormuz, yang dilalui seperlima dari minyak dan gas alam global selama masa damai, telah muncul sebagai titik konflik utama dalam perang AS-Israel melawan IRAN, dengan perundingan perdamaian terhenti sampai masalah pengelolaan selat tersebut terselesaikan.


IRAN menutup selat tersebut tak lama setelah pemboman AS-Israel terhadap IRAN dimulai pada akhir Februari.


Saat ini, IRAN menyatakan hanya berbicara dengan Oman, yang wilayah perairannya juga dilalui selat tersebut, tentang pengelolaan jalur air di masa depan.


Pelayaran komersial masih sangat terganggu di selat tersebut, dengan serangan terhadap kapal terus berlanjut pada hari Selasa ketika pasukan AS menargetkan sebuah kapal yang menurut mereka menuju pelabuhan Iran, di Teluk Oman.


Pada saat yang sama, enam orang tewas dalam serangan Houthi terhadap kapal kargo Saudi di Selat Bab al-Mandeb, menurut otoritas Yaman, yang digambarkan sebagai kematian pertama akibat serangan Houthi terhadap pelayaran sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai.


Jadi, apakah perang memasuki fase berbahaya lainnya? Dan apakah masih ada jalan keluar diplomatik?


Dalam tulisannya di X, Rezaei juga menuntut diakhirinya blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta gencatan senjata di seluruh kawasan, termasuk di Gaza dan Lebanon.
































Comments

Popular posts from this blog

Kapolri Perintahkan Kabareskrim Selidiki Teror Kepala Babi-Bangkai Tikus di Kantor Tempo

Elon Musk sells X

Wudhu Pembuka Shalat