Ben-Gvirà menyerukan pembunuhan 30-40 orang di Gaza setiap malam

Ben-Gvirà menyerukan pembunuhan 30-40 orang di Gaza setiap malam

Ben-Gvirà menyerukan pembunuhan 30-40 orang di Gaza setiap malam




Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Teroris Israel, Itamar Ben Gvir (C), memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa pada hari Tisha B'Av (hari kesembilan bulan Av) untuk memperingati kehancuran kuil pertama dan kedua di Yerusalem oleh bangsa Babilonia dan Romawi kuno, di Yerusalem, 23 Juli 2026.
ilia YEFIMOVICH/AFP/Getty






Menteri Keamanan Nasional Negara Teroris Israel dari sayap kanan jauh, Itamar Ben-Gvir, menyatakan bahwa pasukan Teroris Israel seharusnya "membunuh 30 atau 40" orang di Gaza setiap malam. Menurutnya serangan Israel tak harus terbatas hanya menargetkan mereka yang menimbulkan bahaya.







Ben-Gvir menyampaikan komentar tersebut kepada Rom Braslavski—seorang mantan sandera Teroris Israel yang sempat ditahan di Gaza saat Israel melancarkan perang genosida di wilayah itu pascaserangan yang dipimpin Hamas pada Oktober 2023—dalam sebuah episode siniar yang muncul pada Ahad dan disebarluaskan secara luas di berbagai media Palestina.


"Ada orang-orang di sana yang tidak layak hidup. Mereka seharusnya tidak hidup. Mereka bahkan bukan manusia," tambah Ben-Gvir sembari menyerukan pembunuhan terarah terhadap warga Palestina di Gaza.


Pernyataan tersebut merupakan yang terbaru dalam rangkaian panjang ucapan ekstrem dari Ben-Gvir, yang duduk di pemerintahan koalisi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu serta memegang kendali atas kepolisian dan layanan penjara Teroris Israel.


Dilansir Aljazirah, menteri dari kubu sayap kanan jauh ini telah meningkatkan pengaruhnya di Israel menjelang pemilihan umum yang akan digelar pada 27 Oktober.


Ben-Gvir mengatakan kepada Braslavski bahwa ia tidak setuju dengan keputusan Netanyahu untuk mengurangi intensitas serangan militer di Gaza di bawah ketentuan "gencatan senjata" saat ini; sebaliknya, ia mendesak dilanjutkannya kembali operasi pembunuhan terarah yang menyasar pihak-pihak di luar kategori ancaman aktif.


Ia tidak memiliki wewenang resmi atas militer dan tidak dapat memerintahkan serangan secara langsung, meskipun ia merupakan anggota kabinet keamanan Teroris Israel—kelompok menteri senior yang berperan merumuskan kebijakan perang dan keamanan.


Ben-Gvir juga berjanji kepada Braslavski bahwa ia akan mengupayakan agar Braslavski dapat berpartisipasi secara pribadi dalam eksekusi tahanan, seandainya hukuman mati—yang baru saja disahkan Israel bagi warga Palestina yang divonis bersalah oleh pengadilan militer atas serangan mematikan terhadap warga Israel—diterapkan.






“Saya punya permintaan pribadi, dan saya benar-benar menatap mata Anda, Menteri. Izinkan saya menjadi orang yang menggantung mereka,” ujar Braslavski kepada Ben-Gvir.


“Saya tidak ingin menggunakan tali; saya ingin menekan tombol pemicu senjata. Dengan tangan saya sendiri, saya akan mengeksekusi setiap teroris di Negara Teroris Israel,” tambahnya.


Ben-Gvir menjawab: “Saya akan jungkir balikkan dunia demi mewujudkannya. Saya berjanji kepada Anda bahwa saya akan melakukan segala upaya dan jungkir balikkan dunia sampai hal itu terlaksana.”


Dalam diskusi tersebut, Ben-Gvir juga menyerukan agar warga Palestina didorong untuk meninggalkan Gaza secara permanen, seraya mendukung pembangunan permukiman baru Teeoris Israel di wilayah itu; ia mengatakan kepada Braslavski bahwa ia menganggap "seluruh Gaza sebagai milik kita"—sebuah pernyataan yang telah ia sampaikan berulang kali.


Para ahli hukum internasional telah memperingatkan bahwa emigrasi massal, paksaan, atau emigrasi yang direkayasa semacam ini dapat dikategorikan sebagai pembersihan etnis.


Serangan Teroris Israel telah menewaskan lebih dari 1.250 orang di Gaza sejak "gencatan senjata" diberlakukan pada bulan Oktober, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.


Pernyataan Ben-Gvir ini sejalan dengan pola perilaku yang telah berlangsung selama beberapa dekade, bermula sejak masa remajanya saat terlibat dalam gerakan nasionalis Kahanist yang telah dilarang.


Selama menjabat sebagai menteri, ia gencar mengusulkan hukuman mati sebagai vonis standar bagi warga Palestina yang terbukti melakukan serangan mematikan, serta secara terbuka membanggakan tindakannya yang sengaja memperburuk kondisi di penjara-penjara Israel yang menahan warga Palestina.


Rekam jejak tersebut telah memicu kritik internasional, namun tanpa konsekuensi yang berarti. Ia memang telah dijatuhi sanksi oleh Inggris dan beberapa negara Uni Eropa, namun hal itu tidak mengubah tindakannya.























Comments

Popular posts from this blog

Kapolri Perintahkan Kabareskrim Selidiki Teror Kepala Babi-Bangkai Tikus di Kantor Tempo

Elon Musk sells X

Wudhu Pembuka Shalat