Hormuz tak tergantikan sebagai jalur energi global – Jenderal Iran
Mohammad Reza Naqdi, Penasihat IRGC, mengatakan, bahwa jalur energi baru akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibangun dan menelan biaya yang sangat besar.
Selat Hormuz akan tetap sangat penting bagi perdagangan energi global meskipun ada upaya dari negara-negara Teluk Persia untuk mengembangkan jalur ekspor alternatif, demikian kata seorang penasihat militer senior Iran.
Brigadir jenderal veteran itu juga menyinggung waktu dan biaya yang dibutuhkan untuk mengembangkan infrastruktur energi baru.
Dalam wawancara eksklusif dengan sebuah media Rusia, RT, Mohammad Reza Naqdi, seorang komandan senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, berpendapat bahwa jalur air strategis tersebut tidak mudah digantikan mengingat konsentrasi produksi minyak dan gas di Teluk.
“Selat Hormuz tidak akan pernah kehilangan kepentingannya. [Teluk Persia] adalah lokasi produksi minyak dan gas. Sumur minyak tidak dapat dipindahkan ke tempat lain,” kata Naqdi kepada Saman Kojouri, koresponden RT.
“Jika mereka ingin mencari rute alternatif untuk mengangkut minyak dan sejenisnya, itu membutuhkan waktu bertahun-tahun dan menimbulkan biaya yang sangat besar,” katanya.
Negara-negara penghasil minyak di Teluk telah berupaya membangun infrastruktur dan rute ekspor tambahan karena pengiriman melalui Selat Hormuz masih sangat terganggu, dengan volume transit bulan Juli turun lebih dari 80% dari tingkat sebelum konflik.
Arab Saudi sedang mempertimbangkan perluasan lain dari sistem pipa Timur-Baratnya, meskipun perkiraan industri yang dikutip oleh AFP menunjukkan bahwa proyek tersebut baru dapat diselesaikan sekitar tahun 2030-2031.
UEA bergerak lebih cepat dalam pembangunan pipa tambahan, yang diperkirakan akan selesai tahun depan, sementara proyek Irak-Suriah yang dihidupkan kembali belum memiliki jadwal waktu. Kuwait dan Bahrain saat ini tidak memiliki rute pipa yang melewati Hormuz.
Di bagian lain wawancara, Naqdi menyampaikan versi Iran tentang dugaan rencana rudal yang mendorong Presiden AS Donald Trump untuk diam-diam mengganti pesawat saat meninggalkan Turki bulan lalu, dengan mengklaim bahwa rencana tersebut tidak pernah ada.
Saksikan wawancara eksklusif dengan Mohammad Reza Naqdi selengkapnya di bawah ini.

Comments